Rabu, 09 November 2011




Xerophtalmia


Definisi
Xerophthalmia berasal dari bahasal latin yang berarti mata kering karena terjadi kekeringan pada selaput lendir (konjunctiva) dan selaput kering (kornea) mata. Xerophthalmia merupakan penyakit mata yang diakibatkan oleh defisiensi  vitamin A. Xerophthlmia adalah terjadinya gangguan kekurangan vitamin A (KVA), termasuk kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi sel retina yang berakibat kebutaan (Idral 2009).
Xerophthalmia adalah kelainan pada mata, ditandai dengan kekeringan pada selaput lendir (conjungtiva) atau bagian putih dari mata, dan kekeringan pada selaput bening (cornea) atau bagian hitam mata yang berfungsi sebagai jalan masuknya cahaya ke dalam bola mata (Dedy 2008).


Etiologi
Menurut Idral (2009) xerophthalmia terjadi akibat tubuh kekurangan vitamin A. Defisiensi vitamin A terjadi pada seseorang disebabkan oleh konsumsi makanan yang tidak mengandung cukup vitamin A atau pro vitamin A untuk jangka waktu yang lama, bayi tidak diberikan ASI eksklusif, bayi mengalami BBLR (Berat Bayi Lahir rendah), ibu hamil dan ibu menyusui mengalami KVA, menu yang disajikan tidak seimbang (kurang mengandung lemak essensial, protein, zinc, dan zat gizi lainnya) yang sangat dibutuhkan untuk penyerapan dan penggunaan vitamin A dalam tubuh, menderita penyakit-penyakit yang mengganggu penyerapan vitamin A dan pro vitamin A, seperti penyakit pankreas, diare kronik, Kurang energi Protein (KEP) dan lain-lain, Kerusakan organ hati (pada penderita kwashiorkor dan hepatitis kronis), sehingga berakibat terjadi gangguan pembentukan RBP (Retinol Binding Protein) dan pre-albumin yang penting untuk penyerapan vitamin A.
Gejala
Terdapat bercak putih seperti busa sabun atau keju terutama di daerah celah mata sisi luar. Seluruh permukaan konjungtiva tampak kering. Konjungtiva tampak menebal, berlipat dan berkerut dan mata tampak bersisik (Idral 2009). Bercak ini merupakan penumpukan keratin dan sel epitel yang merupakan tanda khas pada penderita xeroftalmia, sehingga dipakai sebagai kriteria penentuan prevalensi kurang vitamin A dalam masyarakat (Depkes 2003).
Patofisiologi
Dimulai dari gangguan pada sel batang retina, yang sulit beradaptasi diruang yang remang setelah terang, ini sangat jelas terlihat ketika sore hari, dimana penglihatan menurun pada sore hari. Apabila keadaan ini tidak diobati atau terus terjadi dan konsumsi vitamin A sangat rendah bahkan tidak ada dalam makanan, maka tahap selanjutnya akan terjadi bagian putih mata akan kering, kusam, tak bersinar (ini diistilahkan dengan Xerosis Konjungtiva-X1A). Setelah bagian putih mata telah terjadi kering, kusam dan tak bersinar, bila konsumsi vitamin A dari makanan rendah dan tidak mendapatkan kapsul vitamin A rutin lagi, selanjutnya akan  terjadi penimbunan sel epitelnya dan adanya timbunan keratin yang disebut dengan bercak bitot (Arsad 2009).
Pengobatan
            Pengobatan bagi penderita xerophthalmia khususnya xerosis konjungtiva disertai bitik bitot dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan pemberian kapsul vitamin A dengan aturan yang tepat. Kedua dengan memberikan obat tetes mata apabila terjadi infeksi yang menyertainya. Lakukan tindakan pemeriksaan dan pengobatan dengan sangat berhati-hati. Selalu mencuci tangan pada saat mengobati mata untuk menghindari infeksi sekunder, Segera rujuk ke dokter spesialis mata untukmendapat pengobatan lebih lanjut.
 Anjuran gizi
Terapi Gizi Medis adalah terapi gizi khusus untuk penyembuhan kondisi atau penyakit kronis dan luka-luka serta merupakan suatu penilaian terhadap kondisi pasien sesuai intervensi yang diberikan agar klien serta keluarganya dapat meneruskan penanganan diet yang telah disusun. Tujuannya adalah memberikan makanan yang adekuat sesuai kebutuhan untuk mencapai status gizi normal serta memberikan makanan tinggi sumber vitamin A untuk mengoreksi kurang vitamin A. Berikut syarat terapi gizi medis menurut (depkes 2003).
  • Energi
Energi diberikan cukup untuk mencegah pemecahan protein menjadisumber energi dan untuk penyembuhan. Pada kasus gizi buruk, diberikan bertahap mengikuti fase stabilisasi, transisi dan rehabilitasi, yaitu 80-100kalori/kg BB, 150 kalori/ kg BB dan 200 kalori/ kg BB.
  • Protein
Protein diberikan tinggi, mengingat peranannya dalam pembentukan Retinol Binding Protein dan Rodopsin. Pada gizi buruk diberikan bertahap yaitu : 1 – 1,5 gram/ kg BB / hari ; 2 – 3 gram/ kg BB / hari dan 3 – 4gram/ kg BB / hari.

  • Lemak
Lemak diberikan cukup agar penyerapan vitamin A optimal. Pemberian minyak kelapa yang kaya akan asam lemak rantai sedang (MCT=Medium Chain Tryglycerides). Penggunaan minyak kelapa sawit yang berwarna merah dianjurkan, tetapi rasanya kurang enak.
  • Vitamin A
Diberikan tinggi untuk mengoreksi defisiensi. Sumber vitamin A yaitu ikan, hati, susu, telur terutama kuning telur, sayuran hijau (bayam, daun singkong, daun katuk, kangkung), buah berwarna merah, kuning, jingga (pepaya, mangga dan pisang raja ), waluh kuning, ubi jalar kuning, Jagung kuning.
·   Bentuk makanan
Mengingat kemungkinan kondisi sel epitel saluran cerna juga telahmengalami gangguan, maka bentuk makanan diupayakan mudah cerna.

  • Besar porsi dan jadwal makan
Tabel : Kebutuhan Bahan Makanan Sehari Berdasarkan Kelompok Umur

Catatan :
Untuk pemasakan sayuran dan lauk pauk dianjurkan selalu dengan caramenggoreng/menumis. Contoh menu terlampir dengan modifikasi sesuai kebiasaan setempat dankemampuan keluarga.


0 komentar:

Poskan Komentar