Senin, 10 September 2012

Pendakian Gunung Guntur: kado ultah yang tak terlupakan

Sun rise
Gunung Guntur adalah salah satu gunung yang dimiliki oleh Kabupaten Garut, yang terletak di Kampung Dukuh Desa Pananjung Kecamatan Tarogong Kaler. Gunung ini memiliki luas kawasan sekitar 250 ha yang masih berupa areal terbuka, dan seluruhnya dikelola oleh BKSDA Jawa Barat II yang mengacu pada aspek legalitas berupa SK Mentri Kehutanan No:274/kpts II/99. Wilayah Gunung Guntur terletak 3 km dari ibukota Kecamatan Tarogong Kaler dan 7 km dari ibukota Kabupaten Garut. Gunung Guntur yang merupakan gunung yang masih aktif dengan aktivitas vulkanik ini memiliki ketinggian 2.000 m dari permukaan laut dan memiliki satu kawah yang terdapat di salah satu puncaknya. Gunung Guntur memiliki karakter bentang alam yang unik yaitu memiliki tiga bukit pada puncaknya, yang masing-masing bukitnya memiliki ketinggian 1000 m (dari kaki gunung), 1200 m, dan 1300 m pada puncak paling tinggi. Gunung ini memiliki daya tarik yang berupa medan gunung yang menantang, lembah, air terjun, sungai, panorama alam dan kawah. Gunung Guntur memiliki konfigurasi umum lahan bergunung dengan kemiringan lahan yang sangat curam dan memiliki material tanah berupa tanah pasir berbatu. Untuk stabilitas tanahnya wilayah ini tergolong labil, dengan tingkat kelongsoran tanah yang tinggi dan daya serap tanah yang cukup.  
Puncak Gunung Guntur
     Hari itu, 22 Agustus 2012 atau H+3 Lebaran Idul fitri. Komo, epul, hanif, dan yasa (nama disamarkan :D) sengaja datang dari Bogor dan Kerawang untuk mengunjungi kota garut dan tinggal di rumah Uul. Tujuan utama mereka tidak lain adalah untuk melakukan pendakian. Ada 2 gunung yang hendak didaki, yang pertama adalah gunung Guntur, dan yang kedua adalah gunung Cikuray. Saya yang tinggal di Tasik tepatnya di singaparna, baru bisa bergabung dengan mereka keesokan harinya karena pada hari itu saya sedang berada di kota Banjar, Ciamis. 
      Esok siangnya atau 23 Agustus 2012, saya pergi ke garut dan menuju rumah teman uul yang bernama Dadan. Disana ternyata ada teman uul yang lainnya yaitu Ridho dan Epson (bukan printer masbro :D) bersama keempat tmn saya tadi. Dari situlah saya baru tahu kalo mereka akan melakukan pendakian malam harinya ke gunung Guntur. Dengan sedikit kaget dan tanpa persiapan, akhirnya saya memutuskan untuk ikut.
        Singkat cerita, malah harinya atau tepatnya pukul 21.00 WIB kami memulai perjalanan dengan sepeda motor yang kemudian kami titipkan di salah satu rumah warga di kaki gunung guntur. Dari sanalah kami pun mulai melakukan pendakian.Anggota tim teridit dari kapten dadan, sule (bukan nama asli), ridho, epson, komo, epul, hanif, yasa, uul, dan saya sendiri.

Setelah dua setengah jam melakukan pendakian, kami lalu beristirahat di salah tempat dekat curug. Subhanallah, indahnya kota garut di malam hari dilihat dari tebing gunung tersebut. Lalu kami menyalakan api untuk memasak persediaan yang dibawa dan untuk menghangatkan diri.
      Tanpa disadari teman-teman yang lainnya, tepat pukul 00.01 WIB, umur saya bertambah, hari itu genap saya berumur 23 tahun :D. Saya merasa senang merayakan hari ulang tahun yang sangat berbeda dari biasanya, penuh kejutan, dan tak pernah direncanakan sebelumnya. It's AMAZING!!
       Lanjut cerita setelah kami beristirahat dan makan, pukul 02.30 WIB kami melanjutkan perjalanan. Menurut kapten dadan yang bertindak sebagai leader kami disana, untuk menuju puncak Guntur, memerlukan waktu kurang lebih 2 jam lagi, itu pun kalau cepat.  Dan memang untuk pendaki baru seperti saya, medan gunung guntur ini sangat sulit ditaklukan. Tanahnya yang gersang, pepohonan yang jarang, dimana kami hanya berpijah pada tanah yang penuh pasir dan kerikil kecil. Belum lagi kemiringan gunungnya yang hampir mencapai 180 derajat. Alhasil saya dan beberapa teman saya tidak bisa sampai di puncak pada saat sunrise, kami merasa tidak sanggup melanjutkan perjalanan ke puncak yang hanya tinggal 2 blok lagi dari tempat saya berhenti. Hanya Epul, sule, hanif, dan yasa saja yang berhasil sampai di Puncak. Dan moment sun rise pun sempat kami video. 


Setelah melihat sunrise dan beristirahat untuk tidur sejenak, kami pun kembali turun gunung. Disini cobaan lebih menantang lagi. Ketika turun, untuk beridiri pun susah karna tanahnya yang hanya berupa pasir dan kerikil kecil, membuat kami seperti berseluncur diatas salju namun dengan alas sendal dan sepatu. Dan berikut adalah salah satu gambaran kejamnya medan guntur ini :D
 

 Itulah sekilas cerita pendakian saya dan teman-teman, masih banyak cerita lain yang belum sempat saya tulis disini. Namun intinya adalah dengan kita melakukan tafakur dengan alam, adalah salah satu cara mensyukuri kebesaran Allah swt.

To be Continue.....

0 komentar:

Poskan Komentar